Popularity: 9% [?]
If you enjoyed this post, feel free to subscribes to our rss feeds
Ajang ngumpul anak Tasik yang Asik, Suka Wordpress, Adsense, SEO, suka nyari duit dari internet dan jauh dari Narkoba




(No Ratings Yet)



(No Ratings Yet)Disalah satu tayangan Televisi local Tasikmalaya (Taz TV) saya menyaksikan seorang nenek Tua berumur 70 tahun bernama Halimah yang dalam terik matahari sedang memilah sisa-sisa padi dalam jerami yang sudah dipanen dengan menggunakan sebuah besi yang dalam istilah Sunda dikenal dengan istilah “ Ngajamra”. Tayangan yang dilatari alunan musik Ebiet G Ade dengan sentuhan bait sosok Tua yang tak berhenti berjuang. Wajah keriput dengan “dudukuy beledog” mengais diantara jerami sisa panen orang diantara pesawahan yang kondisinya sudah pada belah karena kemarau panjang. Berapa yang Ibu Halimah dapatkan dari usahanya itu, tentu tak akan berlimpah, hanya cukup untuk membuatnya bisa bertahan hidup, sekedar untuk makan hari ini.
Disatu sudut lain sekitar pasar mambo, saya teringat cerita sepuluh tahun yang lalu ketika masih menjalani pendidikan di SMA, seorang lelaki tua beranak sembilan bersama anak lelaki tertua mangkal sebagai penarik becak. Dalam suasana puasa sang Bapak menyaksikan anaknya yang sedang tiduran dalam becaknya, mungkin karena kecapean sehabis menarik penumpang, dalam hati kecilnya mungkin tak tega menyaksikan anaknya ikut-ikutan seperti bapaknya narik becak. Dalam kelelapan tidur sang anak. Sang Bapak membangunkan dengan perasaan tegar “ hei.. bangun sholat “ dan peristiwa itu terulang setiap terdengar suara adzan. Keduanya biasanya mampir sholat bersama di sebuah mesjid dekat pangkalan becaknya, terkadang tidurnya dilanjutkan beberapa saat di mesjid itu. Hingga disuatu akhir Ramadhan keduanya ditungguin oleh dua orang perempuan bersama beberapa anak kecil yang menyertainya. Ternyata mereka menunggu hasil tarikan becaknya untuk memenuhi kebutuhan lebaran, sekedar membeli baju baru alakadarnya untuk orang-orang tercintanya di rumah yang selesai tamat melaksanakan puasa sebulan penuh.
Terakhir saya tak ingin melepaskan amatan saya ketika untuk suatu keperluan mencari bacaan referensi di salah satu toko buku yang ada di mal termegah di Tasikmalaya. Masih sepuluh hari pertama Ramadhan tahun ini. Saya menyaksikan orang-orang sudah berjubel memenuhi mal terbesar di Tasikmalaya tersebut. Mereka rata-rata memenuhi pusat penjualan pakaian dan makanan. Semua kelihatannya sudah terfokus pada lebaran yang padahal masih duapuluh hari lagi. Dalam hati kecil saya berkata “Ternyata masyarakat Tasikmalaya sudah mall oriented” apakah ini salah satu pertanda bahwa kehidupan masyarakatnya sudah mulai sejahtera, atau perilaku konsumeristis dan hedonis yang sudah mulai merasuki mental kehidupannya. Sepertinya ini ada kaitannya dengan semakin menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan modern di Tasikmalaya. Para pengusaha supermarket seolah telah menjadikan Kota Tasikmalaya sebagai surga dalam hal usaha retail. Dan para pengusaha local dan UKM yang biasanya menjajakan dagangan di Pasar Ramadhan Cihideung atau dulu ada Pasar Lama sudah harus mulai siap-siap tergusur oleh eksistensi “Supermarket, Plaza, atau Mall”.
Puasa dan Momentum Emphaty
Jika Saya mengungkapkan jerih payah Nenek Halimah dengan “ngajamra’ nya, seorang Bapak dan anaknya yang berjuang dalam puasa dengan menarik becak demi keluarganya, dan berjubelnya orang-orang berbelanja di pusat perbelanjaan modern, sepertinya hal ini menunjukan beberapa tingkatan orang memandang kehidupan dan juga kaitannya dengan essensi ibadah puasa. Mungkin ada banyak Halimah-Halimah lain yang mencoba bertahan hidup dengan cara seperti itu, dan mereka tidak berharap lebih, hanya sekedar memenuhi kebutuhan makannya. Satu hal yang dapat diambil dari Nenek Halimah, Dia mencari sesuap nasi dengan tangannya sendiri, tanpa menengadahkan tangan pada tangan orang lain. Sebuh nilai perjuangan hidup yang sesuai dengan rentang panjang perjalanannya, keriput wajah dan daya tahannya. Sehingga dia tetap bisa tersenyum tulus. Begitu pula Sang Bapak dan Anak Penarik Becak, dalam puasa mereka tetap berjuang menjaga ibadah demi sebuah tanggungjawa membahagiakan keluarganya.
Puasa sepatutnya mengajarkan kita untuk menahan diri. Mengembalikan ruh kemanusiaan kita pada tingkatan nol. Puasa sejatinya mengajarkan kita akan penderitaan lapar dan dahaga, mengajarkan kita untuk merasakan apa yang biasa orang miskin papa rasakan dalam keseharian. Sebelas bulan kita telah berpesta pora, apakah kita tidak bisa menahan selama sebulan untuk menahan syahwat harta, syahwat kuasa, syahwat keduniawian lainnya. Puasa sebenarnya adalah momentum cuci diri dan jasmani serta hati atas apa yang kita lakukan selama sebelas bulan yang lalu.
Kalau puasa kita berhasil merasakan bagaimana perjuangan hidup Nenek Halimah, bagaimana etos perjuangan Abang-abang Becak yang tetap puasa dan beribadah dalam memenuhi tanggungjawab keluarganya, maka mungkin saatnya kita selaku mukmin dan muslim memulai menyediakan ruang emphaty dalam hati kita, berkenan menyisihkan sebagiaan kelebihan harta dalam wujud kepedulian berbagi. Atau paling tidak, tidak berlebihan membelanjakan harta demi memenuhi syahwat kepuasan kita. Kalau di meja makan kita berlimpah ruah makanan dan minuman yang begitu banyak pilihan demi memenuhi hasrat berbuka kita, padahal perut kita terbatas menerimanya, maka mungkin ada diantara tetangga kita yang untuk berbuka atau sahur saja harus bekerja keras sebagaimana Nenek Halimah tadi, membutuhkan sentuhan kita. Bukankah Sang Nabi berkata “ Tidaklah termasuk mukmin yang tidak mempedulikan tetangganya” .
Dalam sebuah percakapan dengan seorang teman, saya dikejutkan oleh komentarnya ketika dalam mengurus hak-hak orang lain hendaknya kita harus proporsional dan tidak dzalim. “ Ach da lain di surga atuh”. Mungkin kita hendak mewajarkan sesuatu pola atau system yang memang tidaklah sempurna, ada banyak kelemahan dan kekurangan. Namun dalam momentum puasa sebenarnya kita disediakan untuk dalam segala hal berujung sorga. Bahkan Allah SWT memberi balasan puasa dan ibadah didalamnya dengan kalkulasiNya sendiri “ Asshaumu Lii Wa Ana Ajzi bihi “ puasa itu untukKu dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Puasa yang menyediakan ruang relasi khusus dengan Dia, Puasa yang menyediakan ruang emphaty untuk Nenek Halimah, Puasa yang meningkatkan rasa tanggungjawab terhadap Keluarga, dan Puasa yang menyediakan kita untuk senantiasa berpikir dan bertindak tidak berlebihan, apalagi berkaitan dengan hak-hak orang lain. Dan teramat istimewa memang jika hak-hak kita, kita iris dan sentuhkan pada mereka yang memang lebih membutuhkan. Wallohu A’lam.
Penulis : Sekjen Komunitas Kajian Dokar’47, Pengurus Harian PC GP. Anshor Kab. Tasikmalaya
Popularity: 15% [?]
If you enjoyed this post, feel free to subscribes to our rss feeds




(No Ratings Yet)Tanggal 17 Ramadhan kemarin ummat Islam memperingati diturunkannya Al-Qur’an yang popular dengan istilah Nuzulul Qur’an. Namun sepertinya momentum peringatan Nuzulul Qur’an ini tenggelam oleh pemberitaan yang sedemikian massif baik di media cetak maupun elektronikm seputar peristiwa pembagian zakat maut H Syaikhon di Pasuruan Jawa Timur yang mengakibatkan 21 orang meregang nyawa dan beberapa orang lainnya dirawat di rumah sakit. Kita semua tentu amatlah prihatin dengan kejadian itu, walaupun sepenuhnya hal itu harus kita sikapi sebagai suatu musibah yang tak ada seorang pun yang mengharapkannya. Niatan mulia seorang saudagar kaya yang hendak berbagi pada sesama, namun dalam pelaksanaannya terjadi hal yang diluar perkiraan dan kehendaknya. Sepatutnyalah kita menyerahkan sepenuhnya pada Allah SWT bahwa hidup mati seseorang adalah Dia yang menentukan, boleh jadi takdirNya mengatakan bahwa 21 orang mereka yang berdesakan sekedar mendapatkan uang Rp. 30.000,- harus melalui wasilah pembagian zakat maut itu. Kita hanya bisa berdo’a semoga arwah mereka diterima di tempat yang layak disisi-Nya. Amiien.
Kemiskinan Sebagai Pangkal Persoalan
Salah satu topik yang paling menarik dan selalu menjadi bahan perbincangan di berbagai seminar, diskusi, hingga kampanye politik partai dan calon presiden adalah masalah kemiskinan. Boleh jadi hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa Kemiskinan merupakan salah satu masalah social yang banyak menarik perhatian para ahli dari berbagai disiplin ilmu, baik ekonomi, sosiol, politik hingga kajian dari sisi budaya. Mereka berbicara tentang definisi, tolok ukur atau indikator kemiskinan, sebab-sebab terjadinya hingga cara-cara untuk mengatasinya. Jadi fenomena zakat maut di Pasuruan kemarin dalah fenomena social yang kini nyata ada di tengah-tengah kita. Bahwa rakyat sedemikian beratnya menghadapi kehidupan dengan kondisi kemiskinannya, sehingga demi uang tigapuluh ribupun rela meregang nyawa. Sekali lagi factor utamanya adalah persoalan kemiskinan. Tulisan ini akan mencoba mengurai secara sederhana dengan bagian focus utamanya membaca perspektif Al-Qur’an tentang kemiskinan termasuk cara mengatasinya.
Sebagian berpendapat bahwa kemiskinan lebih ditujukan pada orang-orang yang dari sisi kehidupannya tidak mampu memenuhi kebutuhannya yang pokok baik sandang, pangan maupun tempat tinggal. Juga ada yang melihatnya dari sisi kurangnya asupan kasih saying dan lain sebagainnya, sementara dari sisi akar penyebabnya ada yang melihatnya dari sisi karena sikap mentalnya yang malas,tidak tersedianya kesempatan kerja, lemah karena ketertindasan. Atau umum dikenal dengan kemiskinan kultural ( karena budaya malas), dan kemiskinan struktural, karena adanya peran negara, atau struktur-struktur kuasa yang tidak atau belum berpihak pada rakyat yang membuat rakyat tak berdaya dan terkondisikan pada kesulitan kehidupan. Mereka juga tentunya mengemukakan cara-cara mengatasinya sesuai dengan asbab terjadinya kemiskinan tersebut.
Harus kita akui bersama bahwa mengurai benang kusut kemiskinan bukanlah persoalan mudah. Dari waktu ke waktu kemiskinan boleh jadi kualitas dan kuantitasnya naik turun sesuai dengan tingkat pertumbuhan ekonomi di masyarakat atau di suatu Negara. Kita menyaksikan bahwa kebijakan-kebijakan tertentu dari Negara dalam skala dan waktu tertentu berdampak pula terhadap kenaikan atau menurunnya angka kemiskinan. Paska kenaikan harga BBM yang diikuti secara serentak oleh kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat, termasuk harga bidang jasa lainnya seperti angkutan, akan menurunkan tingkat daya beli masyarakat, menurunkan indeks pembangunan manusia yang berkaitan dengan akses terhadap pelayanan kesehatan, kesempatan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, hingga kesempatan meningkatkan tarap hidup ekonominya. Angka kemiskinan logikanya akan naik, pengangguran akan bertambah, bahkan mungkin berdampak pula pada asupan makanan kebutuhan pokok masyarakat. Ada masyarakat yang karena tingginya harga beras, tidak sanggup membelinya dan makan nasi diselingi oyek atau bahan makanan lainnya. Dalam beberapa kasus muncul fenomena gizi buruk.
Namun demikian, sejatinya langkah-langkah penanganan yang dilakukan pemerintah melalui kebijakan ikutannya baik yang sifatnya darurat seperti pemberian BLT, dan yang lebih terprogram seperti Jamkesmas, beasiswa pendidikan, PNPM Mandiri , pemberian Kredit Usaha Rakyat, dan program jangka panjang lainnya yang berkaitan dengan upaya meningkatkan daya tahan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam skala luas sedikit banyak akan kembali menurunkan angka kemiskinan tersebut. Meskipun boleh jadi ada dampak social budaya yang tersisa di masyarakat dengan program Bantuan Langsung Tunainya yaitu mentalitas ingin diberi dan beramai-ramai ingin dikategorikan sebagai keluarga miskin. Selain itu pula budaya luhur yang melekat dan tumbuh di masyarakat seperti budaya gotong royong, tolong menolong, menjadi tercerabut, terkikis karena ada sekat dan penilaian ketidakadilan dari mereka yang tidak mendapatkan. Sehingga muncul komentar “ Gotong royong mah hanya untuk yang dapat BLT !” ironis dan menyedihkan.
Kemiskinan Dalam Perspektif Al-Qur’an
Sebagai pedoman kehidupan bagi kita Ummat Islam, Al-Qur’an memberi kita rujukan seputar bagaimana kemiskinan itu didefinisikan, bagaimana Al-Qur’an memberikan solusi pemecahannya. Bahkan agama kita memberi warning jelas dan tegas “Kaadal Fakru Ayyakuuna Kufran” terkadang kefakiran dan kemiskinan itu mengakibatkan kekufuran. Disamping itu Rasulullah SAW memberi kabar kebahagiaan bagi kaum fakir miskin “Aku akan tinggal nanti disorga bersama orang-orang miskin”. Kemiskinan dan kefakiran menjadi bagian persoalan yang sangat diperhatikan dalam ajaran Islam karena berkaitan langsung dengan masalah akidah termasuk juga jadi bagian dari kelompok ummat yang istimewa dimata Nabi kita Muhammad SAW.
Didalam Al-Qur’an terdapat sekitar 22 ayat yang berbicara tentang kemiskinan. Dari ayat-ayat tersebut dapat diketahui indicator kemiskinan dengan berbagai aspeknya. Pertama, Kemiskinan terkadang dikaitkan dengan orang yang kekurangan makan, sehingga kepada mereka perlu diberikan makanan sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Haaqqah:34, “ Walaa yahuddu ‘Alaa Tho’aamil Miskiin” lihat pula dalam QS. Al-Muddatsir:44, QS. Al-Fajr:18, QS. Al-Maa’uun:3, QS.al_Mujaadilah:4, QS. Al-Maaidah:89. Adapun makanan yang diberikan pada orang-orang miskin itu adalah makanan yang halal dan baik. “ Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan, karena sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu” QS. Al-Baqarah:168. lihat pula ( QS. Al-Maidah:88, QS. Al-Anfal:69, QS. Yunus:59, QS.an-Nahl;114). Makanan yang halal ini tentunya adalah makanan yang secara tegas disuruh oleh Allah SWT untuk memakannya, bukan yang diharamkan seperti bangkai, darah, daging babi, makanan hasil mencuri, menipu, merampok, hasil uang riba, khamr, hasil judi dll. Sementara makanan yang dikategorikan baik, al-Qur’an tidak merincinya, tentu bagiannya para ahli gizi yang mempelajarinya yaitu makanan yang dapat membawa pengaruh bagi kesehatan badan, seperti makanan yang mengandung vitamin, bergizi, berkalori dan tidak mengandung racun, termasuk dilihat dari sisi pengolahannya. Mengapa asupan makanan yang halal dan baiki ini mendapat porsi sorotan. Karena tentunya makanan yang baik akan menjadikan sesorang bertenaga, bergairah dan mampu melaksanakan ibadah, bekerja mencari penghidupan demi mempertahankan hidupnya.
Kedua, Kemiskinan dapat dilihat indikatornya dari jenis pekerjaannya. QS. Al-Kahfi:79 menyatakan “Adapun bahtera itu adalah milik orang-orang miskin yang bekerja dilaut dan aku bertujuan merusakan bahtera(perahu) itu. Karena dihadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera”. Ayat ini menjelaskan tentang dialog Nabi Musa dengan Nabi Khidir. Musa mewakil kelompok generasi muda dan Nabi Khidir mewakili kelompok generasi Tua, keduanya bertukar informasi tentang tolok ukur kemiskinan yang dikaitkan dengan jenis pekerjaan. Dalam ayat ini dijelaskan tentang para nelayan tradisional yang bekerja memeras keringat, membanting tulang, mempertaruhkan nyawanya di tengah lautan. Mereka menggunakan otot dan tenaga dengan posisi sebagai produsen yang menghasilkan ikan hasil tangkapannya. Sementara hasil jerih payah ikan tangkapannya sering dimainkan oleh para tengkulak yang membelinya dengan harga murah. Fenomena ini juga terjadi pada sector-sektor pekerjaan lainnya seperti kalangan petani dan buruh. Mereka bekerja keras namun hasil pertanian terkadang juga harga gabahnya dimainkan oleh para tengkulak, saat mereka butuh untuk kebutuhannya sehari-hari harganya tinggi, sementara saat panen biasanya harga jualnya rendah. Begitu juga kalangan buruh, produksi digenjot agar mencapai target penjualan maksimal, sementara tingkat kesejahteraan diperlakukan sebaliknya.
Ketiga, Indikator kemiskinan dilihat dari sisi pemberian hak-haknya, yaitu mereka yang kehilangan hak dan kesempatan untuk meraih kesuksesan, seperti hak mendapat pekerjaan, pendidikan, kesehatan, keamanan, perlindungan hukum, kesempatan berprestasi dalam kehidupan dan sebagainya. Disaat ada sebagian orang yang hidup berlimpah, bermewah-mewahan, berfoya-foya, sementara sebagian lainnya hidup dalam penderitaan. Adanya ketimpangan, kesenjangan antara orang yang susah meraih hak untuk menggapai kesuksesan, sementara ada segelintir orang ongkang-ongkang menghambur-hamburkan harta dalam keborosan.
Keempat, Indikator kemiskinan berdasarkan al-Quran dapat dilihat dari segi hilangnya penghargaan atau penghormatan orang lain kepadanya. Yaitu mereka tidak dipedulikan dan tidak diperhitungkan. Sehingga secara psikologis mereka juga akan merasa menderita. Kita banyak menyaksikan terutama di kota-kota besar, orang-orang yang tinggal dipinggir kali, komplek padat penduduk dengan kondisi perumahan yang kumuh, sementara diseberangnya komplek perumahan mewah, mobil-mobil bermerk keluar masuk, sementara kepedulian sosial dari komunitas masyarakat terdekatnya tidak sedikitpun menyentuhnya. Mereka sibuk dengan dunianya, menikmati keberlimpahannya, hingga suatu saat ditimpakan kepada mereka malapetaka berupa gelap gulita, mereka rebut ketakutan sebagaimana terekam dalam QS.al-Qalam ayat 17-24.
Bersambung.
Penulis : Penggiat Komunitas Kajian Dokar’47, Mengajar di STAINU Tasikmalaya
Popularity: 16% [?]
If you enjoyed this post, feel free to subscribes to our rss feeds




(No Ratings Yet)Ramadhan Bulan Melembutkan Hati
Kehadiran Bulan Suci Ramadhan adalah wujud kasih sayang Allah SWT. Sebelas bulan kita disibukan menjalani kehidupan dengan penuh kebebasan. Terkadang tak peduli halal haram, tak peduli menyakitkan hati orang lain, tak peduli mengakibatkan kerusakan dan kehancuran. Hati kita keras untuk menjalani hidup, keras mengejar ambisi, keras mempertahankan dan memperoleh hak, bahkan boleh jadi keras menyampaikan kebenaran agama menurut versinya. Bulan Ramadhan sejatinya mendidik kita untuk membalikan semuanya. Ketika kita menyambut kedatangannya dengan ungkapan “Marhaban Yaa Ramadhan”, maka makna terdalam yang dikandungnya adalah kita menyediakan hati yang luas dan lapang menerima kehadirannya, mempersiapkan segenap daya dan upaya untuk mengisinya dengan hal-hal yang memang selayaknya diisi di Bulan suci ini, dan menyiapkan diri untuk menekan dan menjauhi hal-hal yang memang akan merusak kesuciannya.
Akar kata Marhaban juga terkait dengan makna persinggahan, halte atau peristirahatan “Rahiba” dimana kita dapat berhenti sejenak, mengambil perbekalan baru dalam wujud “Taqwa” untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Perjalanan kehidupan kita selama sebelas bulan kedepan haruslah menyiapkan perbekalan, dan sebaik-baiknya bekal adalah taqwa “ Watajawwaduu, fainna khairu jaadi at Taqwa”. Persinggahan selama sebulan Ramadhan adalah dalam rangka memperbaharui, menambah dan menguatkan perbekalan perjalanan kehidupan kita. Karena Ramadhan target akhirnya adalah menjadikan manusia taqwa (Muttaqin) sebagaimana terungkap dalam Firman Allah SWT Surat Al-Baqarah ayat 183 “ Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah aku wajibkan pada orang-orang sebelum kamu, agar kalian bertaqwa”. Kenapa Taqwa merupakan bekal utama perjalanan kehidupan kita menuju kebahagiaan kehidupan akhirat? Karena Allah SWT memberi jaminan jalan keluar dari kesulitan-kesulitan (Waman Yattaqillaaha yaj’allahu makhroja), member rizki yang tiada disangka-sangka (Wayarzuquhu min haitsu laa yahtasib), memberi tempat kembalinya berupa surga (Innal jannata U’iddat lil muttaqiin).
Mengisi Bulan penuh rahmat, bulan yang memang wujud kasih sayang dia yang maha pengasih dan penyayang adalah dalam rangka “menahan diri”. Menahan diri dari kebiasaan-kebiasaan yang di sebelas bulan yang lain biasa kita lakukan, menahan diri dengan rasa lapar dan dahaga dari makan minum mulai sahur sampai datang saatnya berbuka, menahan diri dari berbagai hal yang kira-kira akan merusak ibadah puasa seperti berbohong, menggunjing (ghibah), bergaul secara berlebihan (Israaf) dengan lawan jenis yang mendekati syahwat, dan berbagai perilaku yang dikategorikan sebagai (Ghil) atau penyakit hati. Dan yang terpenting adalah essensi Ramadhan untuk melembutkan hati kita, menekan sampai titik nadir ke-Aku-an kita untuk pertama-tama menempatkan Dia yang paling utama, paling menentukan segalanya, tempat kita bergantung dan berharap.
Puasa menegasikan eksistensi mahluk Tuhan yang lain kaitannya dengan hablum minallah secara vertical. Puasa mengajarkan kita untuk beribadah tidak karena yang lain, tapi semata-mata karena Iman dan Ikhlas padaNya. Hidangan di depan mata, ditengah rasa lapar dan haus, tak ada orang lain yang menyaksikan, apakah kita rela melepaskan Puasa kita? Tentu tidak! Disanalah kita menahan syahwat makan minum kita, hanya demi Dia. Oleh karena itulah mengapa Allah SWT mengatakan “ Ashshaumu Lii Wa Anaa Azzi Bihi” puasa itu untukku dan aku sendiri yang akan membalasnya. Sementara pada sisi lain, Puasa menghadirkan pengakuan kita akan eksistensi manusia yang lain, menyatukan rasa lapar, rasa kekurangan, penderitaan diantara sesama semua yang menjalankan ibadah puasa, tak peduli kaya ataupun miskin. Karenanya dengan puasa sejatinya rasa emphaty dan solidaritas muncul. Si kaya akan merasakan betapa menderitanya rasa lapar dan dahaga yang mungkin si miskin terbiasa menjalaninya sehari-hari, tak pantas kiranya jika si kaya terus terlena dengan keberlimpahan harta tanpa peduli pada sesama. Hatinya harus tergetar dan tersentuh untuk peduli dan berbagi pada mereka yang akrab dengan lapar dan keserba kekurangan. Disinilah muara Puasa menjadikan kesalehan individual dan sekaligus kesalehan social. Sebuah kondisi yang dalam prakteknya berawal dari kelembutan hati menangkap hidayahNya dan meng-Emanasi-kannya dalam kehidupan nyata. Berbagi hidayah Allah SWT dengan hati lembut tidak dengan kegarangan, berbagi kepedulian pada sesama juga dengan kelembutan. Disanalah kita akan menemukan Ramadhan Return yang mencerahkan.
Popularity: 15% [?]
If you enjoyed this post, feel free to subscribes to our rss feeds




(No Ratings Yet)Dua hari kemarin tepatnya tanggal 18-19 September Warga Kota dan Kabupaten Tasikmalaya kedatangan Presidennya yaitu Susilo Bambang Yudhoyono. Kunjungan kerja dalam rangka Safari Ramadhan di Ponpes Cipasung dan Dialog dengan beberapa elemen masyarakat di Imah Tasik Pamoyanan. Karena SBY nginepnya di Hotel Crown yang notabene berada di pusat Kota Tasikmalaya, tentunya ring pengamanan beliau sedemikian ketatnya melingkar segitiga. jalur Crown-Cipasung, dan Crown-Imah Tasik. wuih kayak mau perang aja. sepanjang jalur yang dilalui itu setiap jarak 10 meteran, pasti ada aparat berbaju coklat dan hijau dari kalangan polisi dan tentara. Tapi Ya kita harus mafhum mungkin itulah Protap alias prosedur tetap pengamanan seorang RI.1.
Tapi agak menarik juga ada sedikit kehebohan sewaktu buka puasa di Ponpes Cipasung, Panitia mengumumkan bahwa sambal dan kolek tidak layak di konsumsi dan harus di tarik. takl urung hal itu tentu agak sedikit mengagetkan. ya lagi-lagi kita taat prosedur pengamanan makanan presdien, padahal mungkin pihak katering lalai karena saking banyaknya makanan yang harus disiapkan, sambal dan kolak masih panas langsung dibungkus, akhirnya ada sedikit trouble. padahal mungkin tidaklah sejauh itu masalahnya. tapi pemberitaan lokal maupun nasional kadang mengaitkan dengan prosesi jamuan untuk presiden. dan akan sedikit mengganggu juga sih opininya.
Tapi selain daripada itu, yang lebih penting sebenarnya adalah apa makna penting kedatangan Presiden tersebut bagi masyarakat Kota dan Kabupaten Tasikmalaya. orang akan banyak menduga-duga dan mengaitkannya dengan momen politik 2009 dimana SBY akan mencalonkan diri lagi sebagai presiden. beliau sendiri dalam sambutannya mengatakan bahwa periode 2005,2006,2007 saat Ramadhan keliling di luar pulau Jawa. dan pada tahun 2008 ini beliau fokus kelilingnya di Pulau Jawa. tentu hal ini bagian dari kecerdasan beliau, bahwa kalau udah dekat waktunya mah ya pulau yang paling banyak penduduknya harus di datangin….itu bacaan politis.
Namun dari sisi lain kita juga semestimnya dapat mengambil pelajaran dan manfaat, disamping bangga bahwa beliau mau datang ke Tasikmalaya. moga-moga aja bawa oleh-oleh yang bermanfaat bagi pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Kota dan Kabupaten Tasikmalaya. Siapa Tahu dari kunjungan itu beliau mau membantu pembangunan Rumah Sakit di Kabupaten Tasikmalaya, Membantu Peningkatan pertanian sistem SRI yang di Kabupaten Tasikmalaya menjadi Pilot Projectnya, membantu mempercepat pembangunan IbuKota Kabupaten Tasikmalaya di Singaparna, agar masalah asset dengan Kota cepat selesai, dan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya sebagai induknya bisa dengan senang hati membesarkan anaknya Kota Tasikmalaya tanpa terganggu dengan tarik menarik urusan asset.
Jujur saya mengakui bahwa secara Performance, Kapasitas, Gesture, Leadership, SBY masihlah layak memimpin bangsa ini. Apalagi statemennya meyakinkan ” Negara jangan sampai kalah oleh pihak-pihak yang berbuat kekerasan, mengambil sikap main hakim sendiri terhadap masyarakat lainnya”
Coba Objektif, sekali lagi OBJEKTIF Kita menilai pilihan kita diantara mereka-mereka ini ” SBY ? Megawati ? Wiranto ? Prabowo ? Hidayat Nurwahid ? Yusuf Kala? Akbar Tanjung ? KH. Hasyim Muzadi ? Din Syamsudin ataukah siapa………………….?????
Saya bukan berkampanye, SBY masih sosok yang menjanjikan!
Popularity: 16% [?]
If you enjoyed this post, feel free to subscribes to our rss feeds




(No Ratings Yet)Informasi untuk baraya tasikmalaya, jika ada yang ingin belajar membuat blog di blogger,wordpress dari awal hingga mahir, dan juga sekalian mencari duit lewat internet,
Silakan anda kunjungi http://www.bloggertasikmalaya.blogspot.com atau di http://www.teknikmencariuang.blogspot.com. anda akan saya bantu pandu anda hinga berhasil..
Popularity: 17% [?]
If you enjoyed this post, feel free to subscribes to our rss feeds
©2007-2008 Tasikmalaya Blog Community Tasik Online Percetakan Online
Disclaimer: All data and information provided on this site is for informational purposes only.
